tokoh-tokohnya ..
Min-Hee-Cho ~ Teukie > mahasiswa beasiswa
Jung Cho ~ Hee Chul > pelayan IndoResto
talithaxoxo ~ HanKyung > kolab sama suju,
siz_cha ~ Yesung > turis,
Coddie mushuu ~ KangIn > turis,
lalemfdh ~ Shindong > pemilik IndoResto,
amanda07 ~ Minnie > kolab sama suju,
jess_wirastari ~ Hyukie > kolab sama suju
laiquendy ~ Hae > mahasiswa beasiswa,
MJ! MJ! ~ Siwon > kolab sama suju,
Luna Miss_XaPi ~ Wookie> kolab ma suju
Nadia ~ KiBum > Artis indo, ntar jadi Pemeran sampingan di film kibum
dwee ~ Kyu > kerja di SM,
Monik ladyry ~ Henry> kerja di SM,
Putri princess26 ~ Mimi> turis,
15 VS 15
Bab 1 – Beginning
Super Junior
Ruang ganti Super Junior
“Ah, capek,”
“Hyung, minumanku mana,”
“Hey, jangan pakai laptopku, aku lagi main!”
Seperti biasa, di dalam ruang ganti suju, member suju bergelatakan setelah lelah konser. Tiba-tiba manajer mereka masuk dengan wajah serius.
“Berkumpul! "Berkumpul! Berkumpul!” teriak manajer. Berkumpul! "Teriak manajer. Member suju menghentikan kegiatan mereka dan berjalan mendekati manajer.
“Kalian akan membuat MV baru,” kata manajer memberitahu.
“MV baru? "MV baru? Kali ini apalagi?” tanya Kyuhyun, malas.
“Memangnya tidak cukup ya, MV it's you dan Sorry sorry?” tanya Sungmin, polos.
“Ini pasti karena kita terlalu terkenal,” Teukie membuat gaya gaje.
“Sudah, sudah, kalian harus bekerja keras dalam MV ini,” kata manajer menghentikan tingkah suju yang seperti anak kecil.
“Karena ada yang istimewa dengan MV ini,” manajer memamerkan senyum misterius.
“Wah, apa itu, hyung?” tanya Wookie penasaran.
“Ehm, ehm, kalian akan berkolaborasi dengan GIRLBAND luar negeri,” jawab manajer.
“WUAH!!! "Wuah! GIRLBAND?!!” Eunhyuk dan Kangin berteriak bersamaan.
“Pasti mereka cantik-cantik deh,”
“Aku sudah tidak sabar bertemu mereka,”
“Apa nama GIRLBAND-nya, hyung?”
Manajer tersenyum gaje. “TAJ MahL,” kata manajer, sok misterius
“Wuah, apakah mereka orang India?” tanya Sungmin, keluar.
“Apakah itu berarti kami akan berjoget-joget seperti ini?” Kangin memeragakan joget Bollywood. Eunhyuk dan Donghae ikut-ikutan.
“Kalian akan tahu sendiri nanti,” lagi-lagi manajer sok misterius, kemudian dia meninggalkan ruang ganti suju.
Ruang ganti TAJ MahL
"Ya, ampun, minuman gue mana sih? Dehidarsi nih gue!”
“Eh, itukan handuk gue,”
“Gila, capek!”
Tidak berbeda jauh dengan ruang ganti suju,ruang ganti TAJ MahL pun ramai karena suara-suara cempreng anggotanya.
“EHM,” Rika, manajer mereka, nggak tahu nongol dari mana, tiba-tiba ada di depan pintu dan berdehem. Seluruh anggota TAJ MahL langsung menoleh ke arahnya.
“Eh, manajer, kenapa, bu?” tanya MJ.
“Ada kerjaan lagi untuk kalian,” kata Rika sambil duduk di salah satu kursi dan mengeluarkan berkas-berkas.
“Apa?! "Apa?! Kerjaan lagi?” sahut Jess. “Gila, badan gue udah ancur gara-gara nih konser, kita masih ada kerjaan lagi?” lanjutnya.
“Ngapain lagi sih, kok kayaknya kita kerja mulu, kagak ada liburnya,” Talitha, yang paling muda diantara mereka memasang tampang cemberut.
“Tenang aja, abis kerjaan ini selesai, kalian bisa liburan kok,” kata Rika. “Nggak tanggung-tanggung, kalian bisa liburan di Korea,” lanjut Rika.
“WOA!!!” seluruh anggota TAJ MahL langsung berteriak heboh.
"Emang kerjaan kita kali ini apa? Kok hebat bener, mpe di kasih libur ke Korea,” tanya Luna.
“Kalian bakal dikontrak sama SM entertaiment,” jawab Rika, kalem. Seluruh anggota TAJ MahL langsung speechless, megap-megap udah kayak ikan mas koki kekurangan oksigen.
“Eh, kayaknya pernah denger ya?” celetuk Manda. 4 anggota lainnya langsung menoleh ke arah dia.
“Pabo, ih,” kata Jess, langsung sok korea.
“SM itu tuh home productionnya Super Junior, masa lupa sih!” jelas Luna.
“Oh, iya, SJ, kok gue lupa ya,” seru Manda, mengacungkan telunjukny. Yang lain langsung geleng-geleng kepala. Baru kayak gini aja lupa, nanti dia bilang, Super Junior tuh merk minyak goreng lagi.
Rika membetulkan kacamatanya. “Oh, jadi kalian udah tahu Super Junior, bagus deh, nanti kolaborasinya jadi gampang,” katanya.
“Ntar dulu, ntar dulu,” MJ memegangi kepalanya, kayak orang mencoba mengetahui sesuatu.
“Kolaborasi?!”
"Super Junior?!"
"Kita Kolab sama Suju?!"
Mata mereka membelalak lebar, udah kayak ikan mati. Rika Cuma mengangguk-angguk, santai.
Bandara Incheon
“Aduh, gila, capek juga yah, penerbangan dari Indo ke Korea,” gumam seorang cewek sambil melepas kacamata hitamnya dan menyeret kopernya.
“Iyah, lagian sih, loe, ngajakin liburan ke Korea, kenapa g yang deket-deket aja sih,” ujar orang di sebelahnya.
“Duh, udah bosen gue ke Malaysia,” cewek itu mengibaskan tangannya.
Seorang cewek lagi, yang berada di belakang mereka, celingukan nggak jelas.
“Ya, ampun, orang korea tuwh cakep-cakep ya,” katanya.
Tiba-tiba matanya menangkap sesosok tubuh tinggi semampai. Mulutnya langsung megap-megap nggak karuan. Matanya merem melek udah kayak orang ayan.
“Sis, Die,” dia memegang lengan baju kedua temannya.
“Napa sih loe?” Sisca menoleh ke arahnya.
“Duh, jangan-jangan nih anak kambuh lagi,” imbuh Coddie, melihat gejala-gejala ayan yang ditunjukkan Putri. Putri menggeleng. Putri menggeleng. Dia menunjuk sosok yang dilihatnya.
“Mimi, sis, Mimi!” pekiknya girang.
"Apa? Loe mau minum?” Sisca masih nggak ngerti.
“Ya, ampun, bilang dong Put, nih,” Coddie mengulurkan botol minuman ke arah Putri. Putri langsung manyun menerima perlakuan kedua temannya.
“Aduh, maksud gue bukan itu,” kata Putri, menepis botol minuman yang diberikan Coddie.
"Zhou Mi! Zhou Mi!” teriak putri sambil kembali menunjuk sosok Zhou Mi.
Sisca dan Coddie menoleh ke arah yang ditunjukkan Putri. Zhou Mi terlihat berdiri dengan tegap. Disebelahnya ada Henry. Mereka sama-sama memakai kacamata hitam.
“Yah, nggak ada Suju,” keluh Sisca. Coddie hanya mengangguk.
Putri tidak memperdulikan omongan teman-temannya dan terus menatap Zhou Mi dengan tampang mupeng. Zhou Mi tampak berbicara dengan Henry, kemudian mereka mulai berjalan pergi.
“Zhou Mi!” Putri langsung berlari mengikuti Zhou Mi.
“Ry, loe ngerasa nggak kalo kita tuh di ikutin orang?” tanya Zhou Mi kepada Henry dengan bahasa china.
“Ih, gege, ge er gila loe!” sahut Henry dengan bahasa Inggris.
“Gue serius Ry, coba aja loe liat ke belakang, ada cewek aneh yang lagi ngeliatin kita,” kata Zhou Mi serius. Mukanya kelihatan ketakutan.
Henry ma Zhou Mi lagi di Bandara
Akhirnya Henry menengok sedikit ke belakang. Matanya menangkap sosok Putri yang emang mengikuti mereka dengan tampang mupeng yang mengerikan. Henry sampai terlonjak kaget melihat tampang Putri.
“Ya, ampun, loe bener, gege,” kata Henry, langsung merapat ke Zhou Mi.“Gila, ngeri banget sih tampangnya,” lanjutnya.
“Bener kan gue,” kata Zhou Mi, bangga.
“Terus gimana nih, gege?” tanya Henry.
“Oke, gini aja,” Zhou Mi membisiki Henry sebuah rencana.
“Hatsy!” putri bersin-bersin.“Ya, ampun siapa sih yang ngebicarain gue?” katanya.
"Apa mereka ya? Liat aja tuh si Henry ngelirik-lirik ke sini, pasti mereka baru sadar deh, ada makhluk secantik gue di deket mereka,” Putri langsung cekikikan sendiri. Untung bukan malem-malem, bisa di sangka kuntilanak dia.
Zhou Mi dan Henry mulai berjalan lagi, Putri mengikuti mereka dari belakang. Tiba-tiba Zhou Mi dan Henry berbelok. Ketika putri ikut berbelok, Zhou Mi dan Henry sudah menghilang.
"Zhou Mi! Zhou Mi dimana?” Putri teriak-teriakan sendiri. Sementara orang-orang yang lewat menoleh ke arahnya. Tapi Putri nggak peduli.
Seseorang mencoleknya dari belakang
"WA! Penculik!” teriak Putri heboh sambil memukul orang yang mencoleknya.
“Wait, wait!” seru orang itu. Putri langsung melihat orang yang mencoleknya. Matanya membelalak kaget, mulutnya membuka lebar.
“Ni hai hao ba (kamu nggak apa-apa)?” tanya Zhou Mi. Putri malah mengerjap-kerjapkan matanya, nggak ngerti masih dengan mulut menganga.
“Are you sick?” tanya Henry, melihat kelakuan Putri.
Belum sempat Putri menjawab, seseorang sudah memanggilnya dari belakang Zhou Mi dan Henry.
“Putri! "Putri! Ya ampun,” seru Sisca sambil menerobos di antara Zhou Mi dan Henry. Ya ampun, "seru Ran sambil Menerobos di antara Zhou Mi dan Henry.
“Loe tuh maen lari aja!” sahut Coddie dengan nafas ngos-ngosan. Sisca dan Coddie langsung menyadari kehadiran Zhou Mi dan Henry di situ.
'Ya ampun, nih dua orang emang cakep, pantesan aja Putri ampe bengong kayak sapi ompong gitu' pikir Sisca sambil memperhatikan Zhou Mi dan Henry bergantian.
'Gila, keren banget nih cowok, walaupun masih kerenan Kangin seh,' pikir Coddie ikut-ikutan melihat Zhou Mi dan Henry.
“Ehm, that girl is your friend?” tanya Henry, risih di perhatikan oleh Sisca dan Coddie. "
“Oh, yes, yes, sorry about her behavior,” kata Sisca, menunduk.
“Never mind,” Henry tersenyum manis
“Wo men you ji Henry, lai ba! " (Kita harus pergi, Henry, ayo!)” ucap Zhou Mi. Henry mengangguk.
“We have to go, see you,” kata Henry.
Putri yang daritadi hanya menganga melihat mereka tiba-tiba kesadarannya balik dan muncul sebuah ide gila di kepalanya.
“Wait! "Tunggu! We can't speak korean, would you like to be our guide?” teriaknya.
Sisca dan Coddie memandang nggak percaya ke arah temannya
Henry dan Zhou Mi berbalik, memandang Putri dengan tatapan kaget.
Bandara Inchoen, waktu yang sama
“Nadia, kamu harus berusaha keras dalam audisi ini, oke?” seorang wanita berkata sambil mengepalkan tinjunya, mencoba memberi semangat. "Nadia, kamu harus berusaha keras dalam audisi ini, oke?" Seorang wanita berkata sambil mengepalkan tinjunya, mencoba memberi semangat. Nadia menghela nafas, malas.
“Di Indonesia kamu memang artis terkenal, tapi disini kamu itu pemula, jadi kamu harus kerja keras, Nadia,” wanita itu menepuk pundak Nadia, lembut. "Di Indonesia kamu memang artis yg benar, tapi disini kamu itu pemula, jadi kamu harus kerja keras, Nadia," wanita itu menepuk Pundak Nadia, lembut. Nadia hanya mengangguk.
Korea, here I come
~~~ ~ ~ ~
SM Entertaiment
“Uwh, ternyata capek ya, kerja di SM,” keluh Dewi pada orang disebelahnya.
“Tapi enakkan, bisa ngeliat-liat artis korea,” sahut Monik. Mereka lagi minum minuman kaleng sambil duduk-duduk di sebuah sofa.
“Iya, ngeliat doang, kagak pernah ngobrol gue,” gerutu Dewi.. Monik tertawa melihat tingkah temannya.
“Habis ini gue masih ada kerjaan lagi,” Dewi meminum minuman kaleng yang dibelinya.
“Ngapain lagi?” tanya Monik. "
“Gue di suruh pak Han buat ngasih kostum ke ruang ganti super junior,” jawab Dewi, malas.
“Wah, gila, asyik dong, ketemu suju,” mata Monik langsung berbinar-binar dah kayak lampu disco.
“Mananya yang asyik, paling abis nganter tuh baju gue di kasih kerjaan lain lagi, capek deh,” kata Dewi, kesel.
“Yang penting kan bisa ngeliat suju, mau gue gantiin?” tanya Monik, berharap.
“No way, jarang-jarang gue bisa ketemu suju,” Dewi tersenyum-senyum gaje.
“Wee, tadi aja ngeluh, sekarang semangat, dasar loe, ketebak!” Monik memukul ringan tangan Dewi. Dewi langsung berdiri dan membuang kaleng minumannya.
“Yuk, ah, gue mau ketemu sama my kyubaby dulu,” katanya sambil cengar-cengir.
“Awas, mimisan,” ledek Monik.. Dewi menjulurkan lidahnya dan segera pergi.
Dia mengambil baju yang harus diantarnya dan berjalan menuju ruang ganti suju. Jantungnya dag dig dug pengen ketemu sama Kyuhyun, member favoritnya di suju. Dia mengetuk pintu ruangan, pelan.
“Yo, nuguseyo?” tanya orang di dalam.
“Staff,” jawab Dewi. Duh, suara siapa ya itu? Kyuhyun kah? Kyuhyun kah? Orang itu membuka pintu ruangan.
“Ne?” "Ne?"
Yah, ternyata Eeteuk, pikir Dewi, kecewa
“Saya mau mengantar baju,” kata Dewi menyodorkan baju yang dipegangnya ke Eeteuk. Eeteuk menerimanya dan melihat baju itu.
"Kyunnie! Bajumu udah datang nih,” jantung Dewi langsung berdegup kencang mendengar Eeteuk memanggil member kesayangannya itu.
"Mana? Lama banget,” sahut Kyuhyun, dingin.. Saking dinginnya, Dewi ampe membeku di tempat.. Kyuhyun mengambil baju itu dan segera pergi untuk mencobanya.
“Sebentar, ya,” kata Eeteuk sambil tersenyum.. Dewi cuma mengangguk
Belum ada 5 menit, Kyuhyun sudah balik lagi dengan tampang super duper BT yang ngebuat Dewi langsung jiper ngeliatnya. Aish, apalagi nih? Kok my Kyubaby galak amat ya? Atau lagi PMS? Pre Marah Syndrom? Pikir Dewi, ngaco.
"Ngambil baju yang bener dong! Ukurannya kekecilan nih!” kata Kyuhyun menyodorkan baju itu ke tangan Dewi dengan kasar. Dewi Cuma diem.
“Gimana sih kerjanya, keasyikan ngeliatin artis sih, jadinya nggak bener deh kerjanya,” Aish, ini sih udah keterlaluan!
"Hei, omongan di jaga ya! Loe pikir loe siapa? Ngomong seenak jidat!” teriak Dewi marah.
Kyuhyun dan Eeteuk sampai kaget dibuatnya. Mereka memandang Dewi bengong.. Rasain loe, jangan loe pikir gara-gara loe member kesayangan gue, jadinya gue diem aja di ejek-ejek sama loe.
Tapi kemudian Dewi menyadari sesuatu. Kenapa Eeteuk dan Kyuhyun memandangnya bengong.. Kenapa mereka nggak ngebales perkataan Dewi.
MAMI! MAMI! Udah keren-keren gue marah-marah, gue marah-marah pake bahasa indonesia!!! Jelas lha mereka cengo!!
Di saat yang sama Di saat yang sama
Seorang laki-laki berjalan melintasi sofa tempat Monik tertidur karena kelelahan dan bosan menunggu temannya balik. Laki-laki itu menghentikan langkahnyaDia tersenyum geli. Dia tersenyum geli. Dengan langkah pelan dia berjalan mendekati monik dan mentoel-toel pipinya.
“Hng,” Monik, bergumam pelan.. Tangannya mengibas, menepis tangan laki-laki itu.. reaksi monik membuat laki-laki itu semakin penasaran dan geli. Laki-laki itu mentoel pipi Monik lagi.
Dahi Monik berkerut, alisnya bertaut.
“Dewi, gue lagi nggak mood becanda,” katanya tanpa membuka mata. Laki-laki itu memandang Monik heran. Tidak mengerti apa yang dikatakannya. Dia kembali mentoel pipi Monik. Dia kembali mentoel pipi Monik.
“Dewi, gue,” Monik berteriak keras, membuka matanya. Omongannya tertahan melihat siapa yang ada di hadapannya
HENRY LAU!
Henry berdiri di hadapannya.. Tersenyum manis dengan puppy eyes-nya.
“Sorry, did I bother you?” katanya sambil menatap Monik. Monik menggeleng.
'wew, gue bisa meleleh diliatin mulu kayak gitu,' pikir Monik dalam Hati.
Henry menatap sepatunya dan menggesek sepatunya pada lantai. Henry menatap sepatunya dan menggesek sepatunya pada lantai. Terlihat malu-malu ingin menyampaikan sesuatu. Terlihat malu-malu ingin menyampaikan sesuatu.
. "Ehm," dia berdehem. Monik memperhatikannya intens.. Menunggu kalimat dari bibir Henry.
“Sebenernya, aku baru sampe di sini tadi dan Zhou gege ninggalin aku,” katanya dengan bahasa korea yang susah payah.
“Kamu tahu dimana ruang ganti Super Junior?” tanya Henry sambil menunduk malu.
'Ya, ampun, perlu ya, dia malu-malu kayak gitu?' Monik menahan diri untuk tidak mencubit pipi mochi milik Henry.
Henry kembali menatap Monik, meminta jawaban. Monik mengangguk sebagai jawabanny.
“Mau kuantar,” tawar Monik. Henry mengangguk semangat.
“Makasih ya, aku nggak tahu lagi harus gimana!” Henry tiba-tiba memeluk Monik.
'Gila! Kalo gue mati sekarang, gue nggak bakal nyesel!' jantung Monik berdebar kencang.
'Tapi nggak deh, kasian mochi kalo gue mati sekarang, ntar dia nangis lagi,' Monik senyum-senyum gaje di pelukan Henry.
“Sorry,” dengan wajah memerah, Henry melepas pelukannya Sedangkan Monik sedikit menyesalinya.
Pertokoan Apgeujong
Seorang gadis tampak kewalahan memegang pamflet yang harus dia sebarkan. Dia adalah pelayan sebuah restoran di wilayah itu. Pemilik restoran itu menyuruhnya untuk membagi-bagikan pamflet untuk mengiklankan restoran mereka.
“WUA!”
Karena tidak hati-hati, gadis itu menjatuhkan pamflet-pamflet itu. “Aish, jatuh deh,” gerutu Mai.
Dia memungut pamflet-pamflet yang sekarang bertebaran di jalanan.
Mai melihat kaki seseorang dengan ujung matanya. “Ah, mianhamnida, bisakah anda membantuku memungut pamflet ini?” kata Mai, melambaikan tangannya. "
"Mwo? Aku?” seru orang itu, kaget.
“Iya, tolonglah,” pinta Mai, tanpa melihat orang itu. "Iya, tolonglah," pinta Mai, tanpa Melihat orang itu.
' 'berani sekali dia menyuruh-nyuruhku, apa dia tidak tahu siapa aku? " pikir Kim Heechul, orang itu. tapi kemudian Heechul membungkuk dan mulai memunguti pamflet-pamflet yang berserakan.
Ketika memungut pamflet yang berada di dekat kaki Mai, perhatian Heechul teralih ke sepatunya. Mai memakai sepatu kanvas yang dilukis olehnya sendiri.
“Wuah, sepatumu unik, beli dimana?” tanya Heechul. Mai tersenyum.
“Aku bikin sendiri,” katanya. Heechul mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dia menyerahkan pamflet yang sudah dipungutnya.
“Ini lain kali hati-hati,” katanya. “Kamsa,” Mai menengadah, menatap orang yang membantunya. "
KIM HEECHUL!!!
Orang yang dari tadi membantunya adalah Kim Heechul? Mimpikah dia?
Heechul mengibaskan tangannya di depan muka Mai. "Halo? Gwenchana yo?” tanya Heechul. Mai langsung mengerjap-kerjapkan matanya.
“Gwenchana,” kata Mai, mengumpulkan kembali kesadarannya.
“Kamsahamnida, ini silahkan,” Mai menyerahkan sebuah kupon restoran kepada Heechul. Heechul memandang kupon itu.
'Gila, gue udah ngebungkuk-bungkuk mpe rematik gue kambuh, cuma di kasih kupon doang?' ketika Heechul baru mau protes, Mai sudah menghilang dari hadapannya. Akhirnya Heechul cuma bisa memasukkan kupon itu ke dalam sakunya.
Taman kota di Seoul
Ara berjalan sempoyongan. Dia baru saja dari universitasnya untuk mengumpulkan tugas. Demi mengerjakan tugas itu, dia rela 3 hari 3 malam begadang tidak tidur. Sekarang dia merasa kepalanya mau pecah saking pusingnya. Perutnya mual seperti mau muntah. Tapi dia belum makan apapun hari ini, jadi dia tidak bisa memuntahkan apapun.
“AWAS!!” seseorang berteriak dari sebelah kanan Ara. Ara menoleh. Melihat sebuah bola melesat ke arahnya.
BUGH!
Tanpa dapat dihindari, bola itu mengenai kepala Ara. Ara terjungkal kebelakang. A Untung saja sempat ditahan oleh seseorang. Kepalanya yang pusing tambah pusing.. 'Gue nggak tahan lagi,' katanya, kesadarannya mulai hilang.
“Hei, sadarlah,” sahut orang yang menahannya. Menepuk-nepuk pipinya pelan. Ara menggeleng lemah
“Dimana, rumah, aku,” Ara mendengar kalimat orang itu yang terputus-putus. Dan Ara merasakan bahwa dia bergumam sesuatu. Kemudian pandangannya menjadi gelap.
“Aish, bagaimana ini?” tanya pria yang memegang Ara. "
“Hyung sih, main bolanya terlalu bersemangat,” kata pria yang lebih muda, menyalahkan. "
“Ucapanmu tidak menyelesaikan masalah,” gerutu pria pertama
“Kita antar aja ke alamat yang dia sebutkan,” ajak pria ketiga.
Pria pertama mengangguk. Mereka menggotong Ara ke dalam mobil.
Jalan raya Kangnam
Dessy berjalan sambil menunduk. Meski sudah hampir setengah tahun dia di Korea, tapi dia tetap kangen pada rumahnya. Terakhir kali dia ke Indonesia adalah saat liburan 3 bulan yang lalu.. Dessy menghela nafas.
Dia melihat sebuah gereja beberapa meter di depan. Baiklah, mungkin sebaiknya aku berdoa saja untuk menghilangkan rasa kangenku, pikirnya. Maka diapun melangkah masuk ke dalam gereja.. Di gereja itu ada dua orang pria yang sedang berdoa dengan kusyuk. Karena tidak ingin mengganggu, Dessy mengambil tempat di belakang mereka.
Dia melepas jaketnya dan berdoa di dalam gereja.. Untuk keluarganya di Jakarta, untuk teman-temannya, dan untuk kuliahnya. Semoga, aku cepat-cepat menyelesaikan studiku di sini, jadi aku bisa cepet balik, pintanya. Amin. Amin.
“You are my angel, whisper softly dajeonghan soksagimeun “I love you, everyday””
Tiba-tiba handphone Dessy berbunyi. Ya, ampun, ngagetin aja.
“Yoboseyo,”
“Eh, Des, Nina nih, cepetan balik dong, Ara tepar,”
"Hah? Tepar maksud loe?"
“Gue nggak ngerti deh, pokoknya loe cepetan balik, jangan lupa beliin obat penurun demam ya,”
Tanpa memberi Dessy kesempatan lagi, Nina, teman asramanya di Korea, menutup telpon.
“Uwh, dasar gaje,” gerutu Dessy. Tapi akhirnya dia berjalan keluar gereja. Tapi
Ketika berada di luar gereja. Hujan turun lebat. 'Duh, pegimana ini? Aku nggak bawa payung lagi,' pikir Dessy. Saat sibuk berpikir, seseorang, mencoleknya dari belakang.
Tubuh Dessy langsung jadi kaku. Hii, siapa ya? Jangan-jangan perampok? Apa gue kabur aja? Ntar gue kepeleset lagi.
“Ini jaket kamu kan?” kata orang yang mencoleknya.
Sambil menghembuskan nafas lega, Dessy menoleh. matanya membelalak kaget orang yang menyodorkan jaketnya.
“Kenapa?” tanya orang itu dengan senyum innocentnya.
DONGHAE SUPER JUNIOR??!!!!
"Kamu, ngapain di sini? Berdoa juga?” hanya itu perkataan yang mampu Dessy ucapkan..
Dessy pabo! Kenapa nanya hal kayak gitu? Pikirnya, mengutuk diri sendiri. Donghae tertawa kecil.
“Aku Cuma nemenin Siwon berdoa kok,” katanya.
Dessy tersenyum kaku.. Gue kira, loe yang doa, pikirnya.
“Kamu buru-buru?” tanya Donghae. Dessy mengangguk.
“Temenku sakit, aku mau ngebeli obat penurun demam,” jawab Dessy. "
“Mau aku antar?” tanya Donghae.
Jantung Dessy berdegup lebih cepat mendengar pertanyaan Donghae, meskipun hatinya maunya ngangguk keras.
“Nanti ngerepotin,” kata Dessy, beralasan.
“Gwenchana, lagipula, hujannya kayaknya bakal lama, kasihan temen kamu,” kata Donghae, menarik tangan Dessy.
Ya, ampun, nih orang mau ngebikin gue mati jantungannya? Ya Tuhan, tolong jangan cabut nyawa gue sekarang, pikir Dessy. T
"Siwon! Nggak apa-apakan kalo dia ikut?” Donghae berteriak ke arah pria yang baru selesai berdoa.
Pria itu hanya tersenyum dan mengangguk.
“Tuh, nggak apa-apa, ayo!” Donghae menarik Dessy ke arah mobil. Siwon juga berjalan ke arah mobil.
“Siwon imnida,” kata Siwon memperkenalkan diri ketika mereka sudah di mobil. Siwon yang mengendarai.
“Dessy imnida,” balas Dessy.
“Eh, Siwon, ke apotek sebentar, mau beli obat,” kata Donghae. "
“Hae, kamu sakit?” Siwon memandang Donghae cemas. "
“Bukan, temannya yang sakit,” Donghae menggeleng dan menunjuk Dessy.
“Oh,” komentar Siwon singkat.
Ketika Siwon menepikan mobil, Donghae menahan Dessy yang mau keluar dari mobil untuk membeli obat.
“Biar aku yang keluar,” kata Donghae. "
“Tapi,” Dessy menolak.
“Nanti kamu keujanan, nanti kamu sakit,” kata Donghae.
OMONA!!!! Perlu nggak sih dia ngomong kayak gitu?!!!
Akhirnya Dessy tinggal di mobil dengan Siwon.
“Temennya Hae ya?” tanya Siwon. Dessy menggeleng.
“Lho,” Siwon menatapnya bingung.
“Baru ketemu tadi kok,” jelas Dessy. “Mianhamnida, aku ngerepotin ya?” kata Dessy, menunduk.
“Oh, nggak, nggak kok,” kata Siwon menggeleng. " Kemudian mereka berdua terdiam.
“Kamsahamnida, oppa,” kata Dessy sambil membungkuk ketika mereka sampai di apartemennya.
“Apa oppa mau mampir dulu, menunggu hujan?” tawar Dessy, ngarep. Donghae memandang Siwon.
“Terserah aja, lagi nggak ada kegiatan ini,” kata Siwon.
“Kalau begitu, kami mampir dulu ya,” kata Donghae, senang.
Mereka masuk ke dalam apartemen.
"Lho, hyung?! Apa yang hyung lakukan disini?”
"Donghae? Siwon?”
“Hyukkie? Ryeowook?”
Mereka berlima saling berpandangan, kaget.
Dessy dan Nina ikut-ikutan cengo melihat mereka yang saling berpandangan.
No comments:
Post a Comment